Bandung, kota dimana aku bertemu denganmu. Seseorang yang menurutku ialah orang terpenting setelah keluargaku. Aku datang lagi ke kota ini karena untuk menuntut ilmu. Aku diterima di salah satu universitas negeri di Bandung. Sejujurnya aku tak rela jika aku harus menuntut ilmu di kota yang bakalan membuat aku mengingat semua kenanganku bersama seseorang, Rico.
"Je t'aime!" ucapnya. Aku menatap dirinya bingung. Lalu ia langsung berbisik, mengatakan, "Aku mencintaimu!". Ia bilang itu adalah bahasa Perancis. Ia menatapku serius sambil mengeluarkan kamus elektroniknya. Ia menunjukan sesuatu yang bertuliskan di kamus elektroniknya, Je t'aime = Aku mencintaimu. Dan kata itu pun juga sering kali ia ucapkan ketika aku dan Rico sudah menjalin hubungan. Aku selalu bahagia ketika dia mengucap kalimat itu walaupun sudah ratusan kali. Tetap saja, menggetarkan.
Kami bertemu di sebuah pertemuan semacam pertukaran murid SMA antarwilayah.Dan semuanya terjadi begitu saja. Aku mencintainya. Dia mencintaiku, atau, paling tidak itu yang kutahu. Kurasa itu sudah cukup untuk membuat hidup kami bahagia Ternyata tidak. Ada banyak peran yang harus kami jalani untuk (berpura-pura) bahagia. Seperti kisah percintaan biasanya. Terlalu lama menjalin hubungan, timbul rasa jenuh. Entah apa yang sudah membuat Rico jenuh denganku.
Awal rusaknya hubunganku dengannya, semakin lama sikap Rico berubah 180 derajat. Rico tak seperti yang dulu kukenal. Seorang Rico yang dulu sangat perhatian denganku. Sampai akhirnya Ricolah yang mengakhiri hubungan kami. Ya, inilah yang aku takutkan. Aku memohon satu permintaan terakhir padanya, aku dan Rico tetap bisa berteman baik dan tolong jangan lupakan aku. Hanya itu. Rico hanya membalas dengan senyuman. Entah itu pertanda ia akan mengabulkan keinginanku atau hanya sekedar symbol.
Hari demi hari kujalani terasa sangat berat tanpa dirinya yang biasanya mengisi hari-hariku. Dua tahun bukan waktu yang cukup untuk melupakan segala kebaikannya. “Love is short, forgetting is long” kalimat tersebut benar nyatanya. Dan, entah hingga berapa lama lagi aku bisa melupakan semuanya. Sejujurnya aku masih berharap Rico bisa balik ke kehidupanku lagi. Entahlah. “Impossible”.
Satu tahun berlalu, tepat hari ini, ketika aku sudah mulai berhasil melupakan (beberapa) kenanganku bersama Rico dan sudah berniat akan mencari penggantinya, ternyata niatku tak semulus yang kukira. Aku bertemu dengannya lagi di tempat aku akan menuntut ilmu. Aku dengannya sekarang kini kuliah ditempat yang sama dan juga satu jurusan, bahkan satu fakultas, bioteknologi. Aku merasa kalau ini mimpi. Tetapi tidak. Berulang kali aku menyubit tanganku sendiri dan itu sakit.
Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku dari belakang dan berkata, “Hai Nath! Lama kita tak berjumpa.”. Aku reflek menengok kearah sumber suara tadi. Oke. Benar sudah dugaanku. “Hai Ric! Apa kabar? Ciee…yang keterima di universitas impian..” Jawabku. Kami berdua sebenernya dulu memang sama-sama mengimpikan universitas ini. Dikelas, aku duduk tepat di samping kanan Rico. Awalnya ini sebuah ketidaksengajaan, tetapi lama kelamaan mahasiswa/I yang berada diruangan itu sudah terbiasa dengan lokasi tempat duduk seperti ini. Dan percaya atau tidak, Rico memilihku untuk menjadi rekan kerjanya untuk mengerjakan tugas-tugas penelitian.
Hari ini Rico memintaku untuk menemaninya ke perpustakaan kampus. “Kamu sedang mencari buku apa sih?” tanyaku penasaran. “K-e, ke. P-o, po. Kepo…” ledeknya sambil tertawa kecil. “Serius nih. Biar aku bantuin nyari. Yaa kalo gamau dibantuin juga gapapa sih..” Jawabku. “Yee gitu doang ngambek. Boleh deh. Aku lagi nyari buku seputar dunia hewan untuk bahan refrensi penelitia nanti.” Jawabnya sambil mengusap rambutku. Sambil mencari buku itu kami bercanda-canda, tapi kami tetap mengingat etika jika sedang berada di perpustakaan. “Ric, ini bukan buku yang kamu cari?” kataku sambil menunjukan sebuah buku berjudul “Penelitian hewan”. “Nah ini dia buku yang kucari!” Jawabnya sambil memetik jari, lalu langsung menarikku ke tempat penjaga perpustakaan ini untuk mencatat jadwal peminjaman buku.
Aku dan Rico berjalan di sekitar koridor kampus. Ngobrol, bercanda, dan ketawa-kawa, itu lah yang kami lakukan sepanjang jalan. “Nath, kamu belum makan siangkan? Makan yuk?! Aku traktir deh, mumpung baru dapet kiriman uang bulanan nih hehe..” ajaknya. “Hmm boleh deh, sekali-kali diteraktir..” candaku. “Mau makan dimana?” lanjutku. “Belakang kampus ada restoran baru buka. Mau coba?” katanya menawarkan padaku. “Yaa itu sih terserah kamu aja, Ric, kan kamu yang bayarin hehe” jawabku. Kami langsung menuju ke parkiran motor. Rico yang mengenakan jaket kulitnya, dengan gagahnya menyalakan motor gedenya. Rico pernah bilang, cowok terlihat lebih macho kalau memakai motor gede. Ya, yang dia katakan memang ada benarnya.
Lama kelamaan aku dan Rico sering makan bersama. Setiap hari Rico menjemputku di tempat kos-kossanku. dan mengantarkan aku pulang sampai ke kos-kossanku.Dan sampai akhirnya aku nyaman dengan keadaan ini. Aku merasa balik ke masa laluku, ketika masih menjalin hubungan baik dengannya. Entahlah. Mungkin ini yang namanya cinta lama bersemi kembali. Entah, tapi aku tak yakin kalau Rico juga mengalami hal yang sama denganku. Itu sangat tidak mungkin. Mungkin hanya aku saja yang kegeeran.
Semakin hari, aku semakin nyaman bersamanya. Sekarang aku hanya bisa berharap kalau Rico akan mengajakku menjalin hubungan dengannnya lagi yang dulu pernah ia akhiri. Tapi… Ya, lagi-lagi aku berfikir itu hal yang sangat mustahil. Aku bodoh mengharapkan orang yang telah mengakhiri hubungannnya sendiri. Sudah jelas-jelas dia memang bosan berpacaran denganku. Sudah tak ada harapan lagi kalau ia akan menyediakan tempat untukku dihatinya. Mungkin sedikit saja celah juga tak akan ada. Aku penasaran, apakah sudah ada wanita yang berhasil mendapatkan hatinya Rico. Aku ingin tahu langsung dari mulunya. Tapi tidak mungkin aku menanyakan langsung dengan tiba-tiba. Bagiku, hanya wanita yang tak punya malu bakalan menanyakan langsung isi hati lelaki yang ia cinta.
Aku kaget waktu Rico mengajakku jalan-jalan nanti malam. Baru kali ini Rico mengajakku jalan-jalan pada Sabtu malam. Entah kenapa, kali ini aku ingin sekali terlihat special di matanya. Aku menghias diriku secantik mungkin. Aku berharap, ini bukanlah jalan-jalan yang seperti biasanya.
Handphoneku berdering. Bertuliskan “1 message”, yang isinya “Nath, aku sudah di depan gerbang kosanmu.” Aku langsung membalasnya, “Oke. Tunggu sebentar ya, Ric.” Sesegera mungkin aku keluar dan mengunci pintu kamar. Kuhampiri dirinya. Kulihat Rico, kini ia terlihat berbeda dari yang biasanya. Lebih terlihat tampan, macho, cool, kalau dalam menu makanan, bisa dibilang “paket komplit”.
Rico membawaku kesebuah restoran yang menurutku cukup romantic, ia ternyata sudah memesan meja untuk kita berdua terlebih dulu. Diatas meja kulihat ada dua lilin romantic yang menyala dan seikat bunga mawar merah yang segar. Dalam hatiku, aku bertanya-tanya, mengapa ada seikat bunga mawar dan untuk apa bunga itu.
“Je t'aime! Masih ingat kata-kata itu kan, Nath?” ucapnya sambil memegang tanganku. “Hm masih. Kenapa?” jawabku. “Aku menyesal, Nath, sudah membiarkanmu pergi. Aku masih mencintaimu, Nath! Aku tau, mungkin aku memang sudah tidak ada apa-apanya dimatamu. Tapi aku sungguh masih mencintaimu, Nath!” katanya, berusaha meyakinkanku. "Lalu?" jawabku kaget. "Aku ingin kita kembali seperti dulu lagi, Nath! Dulu sekali, ketika dirimu masih mengisi dikehidupanku." katanya, memohon padaku. Entahlah. Entah mengapa tiba-tiba aku merasa, Rico denganku lebih cocok sebagai sahabat. Aku masih teringat alasan mengapa waktu itu aku dengannya putus. Hanya persoalan sepele, bosan. Aku takut kejadian itu terulang kembali. Dan aku juga teringat dengan teori, menjadi sahabat lebih abadi daripada menjalin hubungan." Ada yang namanya "mantan pacar" tetapi tidak ada yang namanya "mantan sahabat". Ya, aku menutuskan, aku dengan Rico hanyalah sebatas sahabat. "Maaf, Ric. Kurasa kita lebih cocok sebagai sahabat. Ya, aku lebih nyaman status kita sabahat dibanding...." tiba-tiba aku menghentikan omonganku. Aku merasa omonganku selanjutnya itu terlalu sadis. "Kok tiba-tiba berhenti?" Selanya. "Dibanding pacaran denganku, maksudmu?" lanjutnya. "Hm... Maafkan aku, Ric. Tapi sejujurnya memang itu yang kurasakan. Maaf kalau aku sudah membuatmu kecewa." belaku. "Yasudahlah. Tidak apa-apa, Nath. Mau diapain lagi kalau memang itu maumu?! Lagipula hubungan yang dipaksakan tidak akan berjalan mulus." jawabnya sambil tersenyum padaku. "Tapi kamu masih maukan menjadi sahabatku?". Melihat senyumnya, aku merasa lega. "Ya! Kenapa engga? Lagipula memang itu mauku, Ric" jawabku. Lalu Rico memberi bunga mawar merah segar padaku. "Loh kok?" tanyaku heran. "Kenapa? Aneh ya? Anggap aja ini bunga sebagai tanda persahabatan kita. Semoga saja persahabatan kita abadi. Aamiin" katanya, menjelaskan. "Ohbegitu. Ya, semoga saja deh. Aamiin." jawabku.
No comments:
Post a Comment